Pengertian
teori bilangan
Secara
tradisional, teori bilangan adalah cabang dari matematika murni
yang mempelajari sifat-sifat bilangan
bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat
mudah
dimengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika.
i Gambaran sejarah purbakala dari Matematika
Pada
mulanya di zaman purbakala banyak bangsa-bangsa yang bermukim sepanjang
sungai-sungai besar. Bangsa Mesir sepanjang sungai Nil di Afrika, bangsa
Babilonia
sepanjang sungai Tigris dan Eufrat, bangsa Hindu sepanjang sungai Indus
dan
Gangga, bangsa Cina sepanjang sungai Huang Ho dan Yang Tze.
Bangsa-bangsa itu
memerlukan keterampilan untuk mengendalikan banjir, mengeringkan
rawa-rawa,
membuat irigasi untuk mengolah tanah sepanjang sungai menjadi daerah
pertanian
untuk itu diperlukan pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan teknik dan
matematika bersama-sama.
Sejarah menunjukkan bahwa permulaan Matematika berasal dari bangsa yang
bermukim sepanjang aliran sungai tersebut. Mereka memerlukan
perhitungan,
penanggalan yang bisa dipakai sesuai dengan perubahan musim. Diperlukan
alat-alat pengukur untuk mengukur persil-persil tanah yang dimiliki.
Peningkatan peradaban memerlukan cara menilai kegiatan perdagangan,
keuangan
dan pemungutan pajak. Untuk keperluan praktis itu diperlukan
bilangan-bilangan.
Awal
Bilangan
Bilangan
pada awalnya hanya dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam
perkembangannya setelah para pakar matematika menambahkan perbendaharaan
simbol
dan kata-kata yang tepat untuk mendefenisikan bilangan maka matematika
menjadi
hal yang sangat penting bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa
dalam
kehidupan keseharian kita akan selalu bertemu dengan yang namanya
bilangan,
karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi
ataupun
dalam dunia musik, filosofi dan hiburan serta banyak aspek kehidupan
lainnya.
Bilangan dahulunya digunakan sebagai symbol untuk menggantikan suatu
benda
misalnya kerikil, ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki
cara
tersendiri untuk menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol diantaranya :
Simbol
bilangan bangsa Babilonia:
Simbol
bilangan bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun SM:
Simbol
bilangan menggunakan huruf Hieroglif yang dibuat bangsa Mesir Kuno:
Simbol
bilangan bangsa Arab yang dibuat pada abad ke-11 dan dipakai hingga kini
oleh
umat Islam di seluruh dunia:
Simbol
bilangan bangsa Yunani Kuno:
Simbol
bilangan bangsa Romawi yang juga masih dipakai hingga kini:
Dalam
perkembangan selanjutnya, pada abad ke-X ditemukanlah manuskrip Spanyol
yang
memuat penulisan simbol bilangan oleh bangsa Hindu-Arab Kuno dan cara
penulisan
inilah yang menjadi cikal bakal penulisan simbol bilangan yang kita
pakai
hingga saat ini, seperti yang tampak dalam gambar berikut:
Perkembangan
Teori Bilangan
Teori
Bilangan Pada suku Babilonia
Matematika
Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa
Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan
peradaban
helenistik. Dinamai “Matematika Babilonia” karena peran utama kawasan
Babilonia
sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik,
Matematika
Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk membangkitkan
Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam, Mesopotamia,
terkhusus
Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian Matematika Islam.
Bertentangan dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan
Matematika Babilonia diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah
liat
yang digali sejak 1850-an. Lempengan ditulis dalam tulisan paku ketika
tanah
liat masih basah, dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah
terik
matahari. Beberapa di antaranya adalah karya rumahan.
Bukti terdini matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang
membangun
peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit
metrologi
sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria
menuliskan
tabel perkalian pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan
latihan-latihan
geometri dan soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan
Babilonia juga
merujuk pada periode ini.
Sebagian besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari
tahun
1800 sampai 1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar,
persamaan
kuadrat dan kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian,
dan
bilangan prima kembar. Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan
metode
penyelesaian persamaan linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia
7289
SM memberikan hampiran bagi √2 yang akurat sampai lima tempat desimal.
Matematika Babilonia ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesimal
(basis-60). Dari sinilah diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik
untuk
semenit, 60 menit untuk satu jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu
putaran
lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang
melambangkan pecahan derajat. Juga, tidak seperti orang Mesir, Yunani,
dan
Romawi, orang Babilonia memiliki sistem nilai-tempat yang sejati, di
mana
angka-angka yang dituliskan di lajur lebih kiri menyatakan nilai yang
lebih
besar, seperti di dalam sistem desimal
Teori
Bilangan Pada Suku Bangsa Mesir Kuno
Matematika
Mesir merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Mesir. Sejak
peradaban helenistik matematika Mesir melebur dengan matematika Yunani
dan
Babilonia yang membangkitkan Matematika helenistik. Pengkajian
matematika di
Mesir berlanjut di bawah Khilafah Islam sebagai bagian dari matematika
Islam,
ketika bahasa Arab menjadi bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Mesir.
Tulisan matematika Mesir yang paling panjang adalah Lembaran Rhind
(kadang-kadang disebut juga “Lembaran Ahmes” berdasarkan penulisnya),
diperkirakan berasal dari tahun 1650 SM tetapi mungkin lembaran itu
adalah
salinan dari dokumen yang lebih tua dari Kerajaan Tengah yaitu dari
tahun
2000-1800 SM. Lembaran itu adalah manual instruksi bagi pelajar
aritmetika dan
geometri. Selain memberikan rumus-rumus luas dan cara-cara perkalian,
pembagian, dan pengerjaan pecahan, lembaran itu juga menjadi bukti bagi
pengetahuan matematika lainnya, termasuk bilangan komposit dan prima;
rata-rata
aritmetika, geometri, dan harmonik; dan pemahaman sederhana Saringan
Eratosthenes dan teori bilangan sempurna (yaitu, bilangan 6). Lembaran
itu juga
berisi cara menyelesaikan persamaan linear orde satu juga barisan
aritmetika
dan geometri.
Naskah matematika Mesir penting lainnya adalah lembaran Moskwa, juga
dari zaman
Kerajaan Pertengahan, bertarikh kira-kira 1890 SM. Naskah ini berisikan
soal
kata atau soal cerita, yang barangkali ditujukan sebagai hiburan.
Teori
Bilangan Pada Suku Bangsa India
Sulba
Sutras (kira-kira 800–500 SM) merupakan tulisan-tulisan geometri yang
menggunakan bilangan irasional, bilangan prima, aturan tiga dan akar
kubik;
menghitung akar kuadrat dari 2 sampai sebagian dari seratus ribuan;
memberikan
metode konstruksi lingkaran yang luasnya menghampiri persegi yang
diberikan,
menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat; mengembangkan tripel
Pythagoras
secara aljabar, dan memberikan pernyataan dan bukti numerik untuk
teorema
Pythagoras.
Kira-kira abad ke-5 SM merumuskan aturan-aturan tata bahasa Sanskerta
menggunakan notasi yang sama dengan notasi matematika modern, dan
menggunakan
aturan-aturan meta, transformasi, dan rekursi. Pingala (kira-kira abad
ke-3
sampai abad pertama SM) di dalam risalah prosodynya menggunakan alat
yang
bersesuaian dengan sistem bilangan biner. Pembahasannya tentang
kombinatorika
bersesuaian dengan versi dasar dari teorema binomial. Karya Pingala juga
berisi
gagasan dasar tentang bilangan Fibonacci.
Pada sekitar abad ke 6 SM, kelompok Pythagoras mengembangkan sifat-sifat
bilangan lengkap (perfect number), bilangan bersekawan (amicable
number),
bilangan prima (prime number), bilangan segitiga (triangular number),
bilangan
bujur sangkar (square number), bilangan segilima (pentagonal number)
serta
bilangan-bilangan segibanyak (figurate numbers) yang lain. Salah satu
sifat
bilangan segitiga yang terkenal sampai sekarang disebut triple
Pythagoras,
yaitu : a.a + b.b = c.c yang ditemukannya melalui perhitungan luas
daerah bujur
sangkar yang sisi-sisinya merupakan sisi-sisi dari segitiga siku-siku
dengan
sisi miring (hypotenosa) adalah c, dan sisi yang lain adalah a dan b.
Hasil
kajian yang lain yang sangat popular sampai sekarang adalah pembedaan
bilangan
prima dan bilangan komposit. Bilangan prima adalah bilangan bulat
positif lebih
dari satu yang tidak memiliki Faktor positif kecuali 1 dan bilangan itu
sendiri. Bilangan positif selain satu dan selain bilangan prima disebut
bilangan komposit. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masalah tentang
bilangan
prima telah menarik perhatian matematikawan selama ribuan tahun,
terutama yang
berkaitan dengan berapa banyaknya bilangan prima dan bagaimana rumus
yang dapat
digunakan untuk mencari dan membuat daftar bilangan prima.
Dengan berkembangnya sistem numerasi, berkembang pula cara atau prosedur
aritmetis untuk landasan kerja, terutama untuk menjawab permasalahan
umum,
melalui langkah-langkah tertentu, yang jelas yang disebut dengan
algoritma.
Awal dari algoritma dikerjakan oleh Euclid. Pada sekitar abad 4 S.M,
Euclid
mengembangkan konsep-konsep dasar geometri dan teori bilangan. Buku
Euclid yang
ke VII memuat suatu algoritma untuk mencari Faktor Persekutuan Terbesar
dari
dua bilangan bulat positif dengan menggunakan suatu teknik atau prosedur
yang
efisien, melalui sejumlah langkah yang terhingga. Kata algoritma berasal
dari
algorism. Pada zaman Euclid, istilah ini belum dikenal. Kata Algorism
bersumber
dari nama seorang muslim dan penulis buku terkenal pada tahun 825 M.,
yaitu Abu
Ja’far Muhammed ibn Musa Al-Khowarizmi. Bagian akhir dari namanya
(Al-Khowarizmi), mengilhami lahirnya istilah Algorism. Istilah algoritma
masuk
kosakata kebanyakan orang pada saat awal revolusi komputer, yaitu akhir
tahun
1950.
Pada abad ke 3 S.M., perkembangan teori bilangan ditandai oleh hasil
kerja
Erathosthenes, yang sekarang terkenal dengan nama Saringan Erastosthenes
(The
Sieve of Erastosthenes). Dalam enam abad berikutnya, Diopanthus
menerbitkan
buku yang bernama Arithmetika, yang membahas penyelesaian persamaan
didalam
bilangan bulat dan bilangan rasional, dalam bentuk lambang (bukan
bentuk/bangun
geometris seperti yang dikembangkan oleh Euclid). Dengan kerja bentuk
lambang
ini, Diopanthus disebut sebagai salah satu pendiri aljabar.
Teori
Bilangan Pada Masa Sejarah (Masehi)
Awal
kebangkitan teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat
(1601-1665),
Leonhard Euler (1707-1783), J.L Lagrange (1736-1813), A.M. Legendre
(1752-1833), Dirichlet (1805-1859), Dedekind (1831-1916), Riemann
(1826-1866),
Giussepe Peano (1858-1932), Poisson (1866-1962), dan Hadamard
(1865-1963).
Sebagai seorang pangeran matematika, Gauss begitu terpesona terhadap
keindahan
dan kecantikan teori bilangan, dan untuk melukiskannya, ia menyebut
teori
bilangan sebagai the queen of mathematics.
Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas konsep,
tapi juga
banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Hal
ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam metode kode
baris,
kriptografi, komputer, dan lain sebagainya
Jamshid
Al-Kashi (1380 M)
Al-Kashi terlahir pada 1380 di Kashan, sebuah padang pasir di sebelah
utara
wilayah Iran Tengah. Selama hidupnya, al-Kashi telah menyumbangkan dan
mewariskan sederet penemuan penting bagi astronomi dan matematika.
Pecahan desimal yang digunakan oleh orang-orang Cina pada zaman kuno
selama
berabad-abad, sebenarnya merupakan pecahan desimal yang diciptakan oleh
al-Kashi. Pecahan desimal ini merupakan salah satu karya besarnya yang
memudahkan untuk menghitung aritmatika yang dia bahas dalam karyanya
yang
berjudul Kunci Aritmatika yang diterbitkan pada awal abad ke-15 di
Samarkand.
Abu Ali
Hasan Ibnu Al-Haytam (965 M)
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam lahir Basrah Irak, yang oleh masyarakat
Barat
dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang
mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan
yang
merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk
2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam
membuktikan
bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p.
Pierre de Fermat
Fermat menuliskan bahwa “I have discovered a truly remarkable proof
which this
margin is to small to contain”. Fermat juga hampir selalu menulis
catatan kecil
sejak tahun 1603, manakala ia pertama kali mempelajari Arithmetica karya
Diophantus. Ada kemungkinan Fermat menyadari bahwa apa yang ia sebut
sebagai
remarkable proof ternyata salah, karena semua teorema yang dia nyatakan
biasanya dalam bentuk tantangan yang Fermat ajukan terhadap
matematikawan lain.
Meskipun kasus khusus untuk n = 3 dan n = 4 ia ajukan sebagai tantangan
(dan
Fermat mengetahui bukti untuk kasus ini) namun teorema umumnya tidak
pernah ia
sebut lagi. Pada kenyataannya karya matematika yang ditinggalkan oleh
Fermat
hanya satu buah pembuktian. Fermat membuktikan bahwa luas daerah
segitiga siku-
siku dengan sisi bilangan bulat tidak pernah merupakan bilangan kuadrat.
Jelas
hal ini mengatakan bahwa tidak ada segitiga siku-siku dengan sisi
rasional yang
mempunyai luas yang sama dengan suatu bujursangkar dengan sisi rasional.
Dalam
simbol, tidak terdapat bilangan bulat x, y, z dengan sehingga bilangan
kuadrat.
Dari sini mudah untuk mendeduksi kasus n = 4, Teorema Fermat. Penting
untuk
diamati bahwa dalam tahap ini yang tersisa dari pembuktian Fermat Last
Theorem
adalah membuktikan untuk kasus n bilangan prima ganjil. Jika terdapat
bilangan
bulat x, y, z dengan maka jika n = pq, .
Kapankah
angka nol ditemukan?
Zero = 0 = Empty = Kosong (Nol) Memang, kata dalam Bahasa Inggris ‘zero’
(nol)
berasal dari bahasa Arab ‘sifr’, suatu terjemahan literal dari bahasa
Sanskrit
“shûnya” yang bermakna “kosong”. Runtutan keterkaitan bahasa dari masa
ke masa:
shûnya (Sanskrit) -> (Ancient Egypt/Babylonia) -> (Greek/Helenic)
->
(Rome/Byzantium) – sifr (Arab) -> zero (English) -> nol; kosong
(Indonesia). Nol asalnya dari India
“shûnya” bukan cuma sebuah istilah, tapi juga konsep.
Sekitar tahun 300 SM orang babilonia telah memulai penggunaan dua buah
baji
miring, //, untuk menunjukkan sebuah tempat kosong, sebuah kolom kosong
pada
Abakus. Simbol ini memudahkan seseorang untuk menentukan letak sebuah
symbol.
Angka nol sangat berguna dan merupakan simbol yang menggambarkan sebuah
tempat
kosong dalam Abakus, sebuah kolom dengan batu-batu yang ditempatkan di
dasar.
Kegunaannya hanya untuk memastikan bahwa butiran-butiran tersebut berada
di
tempat yang tepat, angka nol tidak memiliki nilai numeric tersendiri.
Pada komputer nol ini dapat merusak sistem, karena nol diartikan tidak
ada.
Berapapun bilangan dikalikan dengan nol hasilnya tidak ada. Nah inilah
yang
membuat bingung dalam operasi perhitungan.
Perhatikan contoh ini :
0=0 ( nol sama dengan nol, benar)
0 x3=0 x 89 (nol sama-sama dikalikan dengan sebuah bilangan, karena juga
akan
bernilai nol)
(0 x 3)/0= (0 x 89)/0 (sebuah bilangan dibagi dengan bilangan yang sama,
akan
bernilai satu)
3=89 (???, hasil ini yang membuat bingung)
Walaupun demikian sebenarnya nol itu hebat, jika tidak ditemukan angka
nol
tulisan satu juta dalam bilangan romawi ditulis apa?? Bisa-bisa selembar
kertas
tidak sampai untuk hanya memberikan symbol satu juta itu. Bisa
dibayangkan jika
nol tidak ada. Banyak kekuatan yang terkandung dalam angka ini. Nol
adalah
perangkat paling penting dalam matematika. Namun berkat sifat matematis
dan
filosofis yang aneh pada angka nol, ia akan berbenturan dengan filsafat
barat.
Angka nol berbenturan dengan salah satu prinsip utama filsafat barat,
sebuah
dictum yang akar-akarnya terhujam dalam filsafat angka Phythagoras dan
nilai
pentingnya tumbuh dari paradoks Zeno. seluruh cosmos Yunani didirikan di
atas
pilar: tak ada kekosongan.
Kosmos Yunani yang dis=ciptakan oleh Phytagoras, Aristoteles dan
Ptolemeus
masih lama bertahan setelah keruntuhan peradaban Yunani. Dalam kosmos
ini tak
ada ketiadaaan. Oleh karena itu, hampir sepanjang dua milinium
orang-orang
barat tak bersedia menerima angka nol. Konsekuensinya sungguh
menakutkan.
Ketiadaan angka nol menghambat perkembangan matematika, menghalangi
inovasi
sains dan yang lebih berbahaya, mengacaukan sistem penanggalan.
Macam-macam bilangan
Bilangan Bulat adalah bilangan yang terdiri atas bilangan positif,
bilangan
nol, dan bilangan negatif.
Misal : ….-2,-1,0,1,2….
Bilangan asli adalah bilangan bulat positif yang diawali dari angka
1(satu)
sampai tak terhingga.
Misal : 1,2,3….
Bilangan cacah adalah bilangan bulat positif yang diawali dari angka 0
(nol) sampai
tak terhingga.
Misal : 0,1,2,3,….
Bilangan prima adalah bilangan yang tepat mempunyai dua faktor yaitu
bilangan 1
(satu) dan bilangan itu sendiri.
Misal : 2,3,5,7,11,13,…..
(1 bukan bilangan prima, karena mempunyai satu faktor saja).
Bilangan komposit adalah bilangan yang bukan 0, bukan 1 dan bukan
bilangan
prima.
Misal ; 4,6,8,9,10,12,….
Bilangan rasional adalah bilangan yang dinyatakan sebagai suatu
pembagian
antara dua bilangan bulat (berbentuk bilangan a/b, dimana a dan b
merupakan
bilangan bulat).
Misal: 1/2 ,2/(3 ),3/4….
Bilangan irrasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai
pembagian dua bilangan bulat.
Misal: π, √3 , log 7 dan sebagainya.
Bilangan riil adalah bilangan yang merupakan penggabungan dari bilangan
rasional dan bilangan irrasional
Misal: 1/2 √(2 ),1/3 √5,1/4 π,2/3 log2 dan sebagainya.
Bilangan imajiner (bilangan khayal) adalah bilangan yang ditandai dengan
i,
bilangan imajiner i dinyatakan sebagai √(-1). Jadi, jika i = √(-1) maka
i2= -1
Misal: √(-4)=⋯?
√(-4)=√(4×(-1) )
= √4×√(-1)
= 2 × i
= 2i
Jadi, √(-4)=2i.
Bilangan kompleks adalah bilangan yang merupakan penggabungan dari
bilangan
riil dan bilangan imajiner.
Misal; π√(-1)= πi
Log √(-1)=logi
APLIKASI TEORI BILANGAN
ISBN (International
Book Serial Number)
Fungsi
hash
Kriptografi
Pembangkit
bilangan acak-semu
dll
ISBN
Kode
ISBN terdiri dari 10 karakter, biasanya
dikelompokkan dengan spasi atau garis, misalnya 0–3015–4561–9.
ISBN
terdiri atas empat bagian kode:
- kode yang
mengidentifikasikan bahasa,
- kode penerbit,
- kode unik untuk
buku tersebut,
- karakter uji (angka
atau huruf X (=10)).
Contoh:
ISBN 0–3015–4561–8
0 :
kode kelompok negara berbahasa Inggris,
3015 :
kode penerbit
4561 :
kode unik buku yang diterbitkan
8 :
karakter uji.
Karakter
uji ini didapatkan sebagai berikut:
1
× 0 + 2
× 3 + 3
× 0 + 4
× 1 + 5
× 5 + 6
× 4 +
7
× 5 + 8
× 6 + 9
× 1 =
151
Jadi,
karakter ujinya adalah 151 mod 11 = 8.
FUNGSI HASH
Tujuan:
pengalamatan di memori
Bentuk:
h(k) = k mod m
- m
: jumlah lokasi memori yang
tersedia
- k : kunci (integer)
- h(k)
: lokasi memori untuk record dengan
kunci k
Kolisi
(collision) terjadi jika fungsi hash
menghasilkan nilai h yang sama
untuk k yang berbeda.
Jika
terjadi kolisi, cek elemen berikutnya yang
kosong.
Fungsi
hash juga digunakan untuk me-locate
elemen yang dicari.
KRIPTOGRAFI
§ Pesan: data
atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya.
Nama
lain: plainteks (plaintext)
§ Pesan dapat berupa:
teks, gambar, audio, video.
§ Pesan ada yang dikirim
atau disimpan di dalam media
penyimpanan.
Cipherteks (ciphertext):
pesan yang telah disandikan sehingga tidak memiliki makna lagi.
Tujuan: agar
pesan tidak dapat dimengerti maknanya oleh pihak lain.
Cipherteks
harus dapat diubah kembali ke plainteks
semula
Contoh:
Plainteks:
culik anak itu
jam 11 siang
Cipherteks:
t^$gfUi89rewoFpfdWqL:p[uTcxZ
Enkripsi (encryption):
proses menyandikan plainteks menjadi ciphertek.
Dekripsi (decryption):
Proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteksnya.
Kriptografi (cryptography)
Dari
Bahasa Yunani yang artinya “secret writing”
Definisi:
kriptografi adalah ilmu dan seni untuk
menjaga keamanan pesan.
Algoritma kriptografi (cipher)
-
aturan untuk enkripsi dan dekripsi
-
fungsi matematika yang digunakan
untuk
enkripsi dan dekripsi.
Kunci:
parameter yang digunakan untuk transformasi enciphering dan dechipering
Kunci
bersifat rahasia, sedangkan algoritma kriptografi
tidak rahasia
Sudah
digunakan di Yunani 400 BC
Alat
yang digunakan: scytale
Aplikasi Kriptografi
1.
Pengiriman
data melalui
saluran komunikasi
(data
encryption on motion).
2.
Penyimpanan
data di dalam
disk storage
(data
encryption at rest)
Data
ditransmisikan dalam bentuk chiperteks. Di tempat
penerima chiperteks dikembalikan lagi menjadi plainteks.
Data
di dalam media penyimpanan komputer (seperti hard
disk) disimpan dalam bentuk chiperteks. Untuk membacanya, hanya
orang
yang berhak yang dapat mengembalikan chiperteks menjadi plainteks.
Notasi Matematis
Misalkan:
C =
chiperteks
P =
plainteks dilambangkan
Fungsi enkripsi E
memetakan P ke C,
E(P)
= C
Fungsi dekripsi D
memetakan C ke P,
D(C)
= P
Dengan menggunakan
kunci K, maka fungsi
enkripsi dan dekripsi menjadi
EK(P) = C
DK(C)
= P
dan kedua
fungsi ini memenuhi
DK(EK(P))
=
P
Jika
kunci enkripsi sama dengan kunci dekripsi, maka
sistem kriptografinya disebut sistem simetri atau sistem
konvensional.
Algoritma
kriptografinya disebut algoritma simetri
atau algoritma konvensional .
Jika
kunci enkripsi tidak sama dengan kunci dekripsi,
maka sistem kriptografinya disebut sistem nirsimetri (asymmetric
system)
Nama
lain: sistem kriptografi kunci-publik
karena,
kunci enkripsi bersifat publik (public key) sedangkan kunci
dekripsi
bersifat rahasia (private key).
Pengirim
pesan menggunakan kunci publik si penerima
pesan untuk mengenkripsi pesan
Penerima
pesan mendekripsi pesan dengan kunci
privatnya sendiri.
LATIHAN SOAL !
-
Jelaskan pengertian teori bilangan !
-
Berilah contoh bahwa peranan matematika sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari !
-
Jelaskan perkembangan teori bilangan pada masa sejarah / masehi !
-
Sebutkan tokoh-tokoh teori bilangan !
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam bilangan !
-
Jelaskan kapan angka "0" ditemukan !
-
Jelaskan gambaran sejarah purbakala matematika !